Kapan puasa arafah? (Waktu puasa arafah sesuai sunnah)

kapan puasa arafah sesuai sunnahPuasa Arafah berbeda dengan hari arafah. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pertama, puasa Arafah mengikuti wukuf di Arafah. Ini merupakan pendapat lajnah daimah yaitu komite fatwa dan penelitian ilmiah Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari Arafah bahwa hari Arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada. Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di Arafah di Saudi. Lajnah Daimah menjelaskan hari Arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah, puasa Arafah dianjurkan bagi orang yang tidak melakukan haji karena itu jika anda ingin puasa Arafah maka anda bisa melakukan puasa di hari itu yaitu hari Wukuf dan jika Anda puasa sehari sebelumnya tidak masalah fatwa lajnah da’imah.

Kedua, puasa Arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu ditentukan berdasarkan waktu di mana orang itu berada dan hari Arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender dimana kaum muslimin berada. Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari Arafah, beliau menyatakan yang benar semacam ini berbeda-beda sesuai perbedaan mathla’ atau tempat terbit Hilal. Sebagai contoh kemarin Hilal sudah terlihat di Mekah dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah sementara di negeri lain Hilal terlihat sehari sebelum makkah sehingga hari Wukuf Arafah menurut warga negara lain jatuh pada tanggal 10 dzulhijjah maka pada saat itu tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa karena hari itu adalah hari raya bagi mereka. Demikian pula sebaliknya ketika di Mekkah Hilal terlihat lebih awal daripada negara lain. Sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah inilah pendapat yang kuat karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya “apabila kalian melihat Hilal lakukanlah puasa dan apabila melihat dia lagi yaitu hari raya Maka jangan puasa”. Majmu’ fatawa Syaikh Ibnu utsaimin

Dari keterangan diatas kita bisa memahami bahwa perbedaan Penentuan hari Arafah kembali kepada dua pertimbangan.

Pertama, Apakah perbedaan tempat terbit Hilal atau ikhtilaf mathali’ mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan kaum muslimin di seluruh dunia disatukan sehingga perbedaan tempat terbit Hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara pendapat kedua, sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah, ini merupakan pendapat ikrimah Al qasim bin Muhammad bin Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin rahuyah dan Ibnu Abbas. Fathul Bari.

Dari dua pendapat tersebut, InsyaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, adanya perbedaan tempat terbit Hilal mempengaruhi perbedaan penentuan tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib yaitu mantan budak Ibnu Abbas bahwa Ummu fadhl bintu Al-Harits yaitu ibunya Ibnu Abbas pernah menyuruhnya untuk menemui muawiyah di Syam dalam rangka menyelesaikan suatu urusan Kuraib melanjutkan kisahnya. Setibanya di Syam saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu fadhl ketika itu masuk tanggal 1 Romadhon dan saya masih di Syam. Saya melihat Hilal di malam Jumat kemudian saya pulang ke Madinah, setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku “Kapan kalian melihat Hilal?” tanya Ibnu Abbas. “kami melihatnya malam Jumat” jawab Kuraib. “Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan masyarakat pun melihatnya, mereka puasa dan muawiyah pun puasa” jawab Kuraib. Ibnu Abbas menjelaskan Kalau kami melihatnya malam Sabtu kami terus berpuasa hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat Hilal Syawal. Kuraib bertanya lagi “Mengapa kalian tidak mengikuti Rukyah muawiyah dan puasanya muawiyah?”. Jawab Ibnu Abbas “Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada kami” Hadits Riwayat Muslim, Nasai, Abu Daud, Turmudzi dan yang lainnya.

Batasan hari Arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa Arafah adalah puasa pada hari dimana jamaah haji melakukan wukuf di Arafah tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan waktu terbitnya Hilal, sementara ulama lain berpendapat bahwa hari Arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda. Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari 2 keterangan diatas terlepas dari ikhtilaf mathali’ atau perbedaan tempat terbit Hilal di atas.

Kita sepakat bahwa Islam adalah agama bagi seluruh alam tidak dibatasi waktu dan zaman sebelum tiba saatnya Allah mencabut Islam dan seperti yang kita baca dalam sejarah di akhir dakwah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan kemudian di zaman para sahabat Islam telah melebar hingga dataran Syam dan Irak.

Dengan alat transportasi masa silam perjalanan dari Mekah menuju Ujung wilayah kaum muslimin bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan, karena itu di masa silam Untuk mengantarkan sebuah info dari Mekkah ke Syam atau Mekah ke kufah harus menempuh waktu yang sangat panjang berbeda dengan Sekarang anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia hanya kurang dari 1 detik, sehingga orang yang berada di tempat yang sangat jauh sekali pun bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di Arafah dalam waktu sangat sangat singkat.

Disini kita bisa menyimpulkan jika di masa silam standar hari Arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di Arafah tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama atau bahkan harus menunggu beberapa hari Jika ini diterapkan tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa Arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di Padang Arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah, ini berbeda dengan masa sekarang hari Arafah sama dengan hari wukuf di Arafah bisa dengan mudah diterapkan hanya saja di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang karena tidak boleh kita mengatakan ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam. Oleh karena itu memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan. Hari Arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah, dengan prinsip ini kita bisa memahami bahwa syariat puasa Arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas waktu dan tempat. Demikian. Allahu a’lam.

Simak video lengkapnya

Sumber:
www.youtube.com/watch?v=-O3YK_QPTOU

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.